Ciptakan Inovasi Bersama Ekosistem Pangan untuk Dukung Surplus Pangan Indonesia

published on 10 August 2022
image1-n5nna

Sumber daya alam Indonesia memang tidak dipungkiri berlimpah ruah, khususnya pangan. Kondisi ini juga yang turut mendorong aktivitas ekspor yang turut didorong oleh Pemerintah dalam memajukan surplus pangan nasional, sekaligus menyejahterakan petani-petani Indonesia.

Surplus pangan Indonesia menjadi sebuah berita baik untuk kita, sudah pasti. Tapi sayangnya, ini juga menjadi satu kendala yang berjalan secara barengan. Kenapa bisa jadi kendala untuk sebuah berita baik?

Di sesi webinar SheHacks 2022 pada 4 Agustus kemarin yang bertema “Menjadi Local Champion Penggerak Surplus Pangan Nasional”, Ultra Indonesia yang diwakili oleh CEO-nya, Agung Nugroho, menjelaskan bahwa dorongan pemerintah untuk ekspor tidak sebanding dengan situasi food chain yang terjadi secara lokal.

Menurutnya, selain mengekspor bahan pangan yang ada, ada baiknya bahan pangan yang dihasilkan diolah menjadi suatu produk terlebih dahulu untuk juga bisa menciptakan value change yang lebih besar.

Pernyataan ini juga didukung oleh rekan pembicara dari founder Warung Kebunku, Nectaria Ayu, yang melalui bisnisnya mengolah hasil kebun organiknya yang melimpah secara kreatif menjadi makanan sehat dan produk lainnya.

Menciptakan Produk Berdaya Saing Global

Dalam mengembangkan sebuah produk dari hasil olahan pangan, ada beberapa poin yang mesti diperhatikan supaya nilai dari produk tersebut mempunyai daya saing secara global, seperti keunikannya (unique value), keuntungan yang diperoleh dari produk tersebut (added value), dan kekhasan dari produk tersebut dari produk lainnya (distinctive value).

Ini akan jadi sebuah peluang besar juga untuk pegiat industri pangan, tidak hanya akses ke global market, tapi juga dalam mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan produk tersebut.

“Investor-investor ke dunia pangan sudah semakin berlimpah,” tambah Agung Nugroho, “Selama memiliki added value, unique value, dan distinctive value semua akan jadi gampang.”

Menjadi Local Champion Pangan dan F&B

Kebutuhan terhadap bahan makanan organik selama pandemi naik dengan pesat dan jadi satu peluang bisnis yang juga cocok untuk dilakukan, namun juga tidak luput dari kendala.

Menurut Nectaria Ayu, pasokan bahan organik yang terbatas membuat pebisnis bisa mengalami kesulitan dalam segi kapasitas dan juga biaya yang perlu dikeluarkan. Tapi bagi Nectaria, ini bisa diatasi dengan menjalin kerjasama antar pegiat industrinya, seperti bersama petani lokal, UMKM lainnya, hingga manufaktur. Selain itu yang perlu disiapkan juga adalah sertifikasi dari makanan organik tersebut.

Kendala-kendala ini juga yang menjadikan diperlukannya keberadaan food startup dan F&B Venture Builder untuk menjalin kerjasama kolaboratif dengan pelaku F&B untuk menciptakan ekosistem pangan yang saling terkoneksi dan mendukung setiap kebutuhan dalam memajukan industri pangan dalam menciptakan surplus pangan yang berkualitas.

Jika kamu adalah seorang pegiat di industri pangan, atau tertarik untuk memulai bisnis di industri ini, akan ada berbagai cara yang bisa kamu lakukan untuk turut mendukung surplus pangan Indonesia makin maju. Tentu saja, kamu tidak perlu sendirian untuk, karena akan ratusan peserta lainnya yang telah mengikuti rangkaian webinar SheHacks 2022 dengan berbagai bahasan topik. Mulai dari teknologi, bisnis, gender equality, dan masih banyak lagi untuk mendukungmu dan perempuan Indonesia lainnya dalam berinovasi. Kunjungi website SheHacks 2022 untuk cari tahu jadwal dan mendaftar webinarnya.

Read more