Ekofeminisme dengan Budaya Sustainable Living

published on 25 May 2022
pasted image 0-znrk7

Setiap dua minggu sekali program SheHacks 2022 mengadakan webinar dengan berbagai macam topik; pendidikan, lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi. Pada webinar kali ini yang dilakukan secara online melalui streaming youtube Indosat Ooredoo Hutchison merupakan webinar kedua dari program SheHacks 2022 dengan topik “Ekofeminisme Transformatif untuk Keadilan Iklim”.

Webinar yang dilaksanakan pada 19 mei 2022 pukul 12.00—13.00 WIB. dihadiri oleh beberapa narasumber hebat diantaranya Ibu Khalisah Khalid sebagai Public Engagement and Action Greenpeace Indonesia, Ibu Siti Maimunah sebagai Founder Ruang Baca Puan, dan Ibu Andhyta Firselly Utami sebagai Co-Founder Environmental Economist & Think Policy.

Bertemakan lingkungan, webinar ini dibuka oleh Ibu Wigke Capri Arti sebagai peneliti dan dosen di Universitas Gadjah Mada, Departemen Politik dan Pemerintah dan juga selaku moderator di webinar kali ini.

Membahas perubahan iklim yang terjadi di Indonesia, Ibu Khalisah Khalid berpendapat bahwa pandemi memberi kesempatan kepada bumi untuk bisa bernafas, karena sebelumnya bumi terus dieksploitasi. Mau tidak mau masyarakat dipaksa untuk melambat, terutama di laju ekonomi dengan melakukan refleksi diri, dan mengoreksi model ekonomi yang tidak sesuai dengan keadaan yang ada, tambahnya.

Dilanjutkan pemaparan dari Ibu Siti Maimunah yang menjelaskan definisi ekofeminisme yang artinya merupakan pengkritikan model pertumbuhan ekonomi yg sekarang dilakukan jauh dari sesuatu yang berkelanjutan (sustainable). Beliau juga menjelaskan model yang dimaksud, ”karena model yg sekarang itu menciptakan gap economy yang luar biasa. Misalnya hampir separuh aset di indonesia hanya dikuasai oleh 1% orang, mungkin sustainable hanya untuk 1% orang, tapi tidak untuk 99%”, ujarnya.

Hal ini juga disetujui oleh Ibu Andhyta terkait hubungan antara Ekofeminisme dengan budaya hidup berkelanjutan, “lensa operasinya bisa sama-sama kita pakai juga apa yang terjadi hari ini, di dalam bagaimana kita punya model ekonomi seperti ini? kenapa ada fetish yg sangat besar dalam pertumbuhan ekonomi? dalam fetish ini mendorong keputusan para pengusaha di nasional maupun global dan mengabaikan aspek well-being”, ungkapnya. Ibu Andhyta juga berpendapat bahwa prinsip kesetaraan dalam politik, kesetaraan penyebaran sumber daya sangat dibutuhkan dalam menghadapi permasalahan ini.

Ibu Andhyta juga membahas tentang pemanasan global (global warming) yang secara global dibutuhkan untuk menurunkan emisi sampai net zero (emisi nol) di tahun 2050 dalam menekan pemanasan global. sedangkan Indonesia sendiri menargetkannya pada tahun 2060. “Penting untuk target ini dioperasionalisasikan dalam kebijakan sektoral, yaitu sektor hutan dan lahan, serta sektor energi”, tambahnya.

Dalam webinar kali ini Ibu Khalisah Khalid dari Greenpeace Indonesia berpendapat bahwa bagaimana sebenarnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh perempuan dalam membangun resilience menghadapi krisis iklim semestinya bisa digali dan kemudian difasilitasi oleh pemerintah untuk bisa didukung lebih lanjut. Beliau percaya bahwa pengetahuan perempuan harus bersifat memberdayakan, dan berkelanjutan.

Acara ini ditutup dengan sesi tanya jawab dari peserta yang antusias terhadap topik kali ini dan menciptakan ruang diskusi baru untuk topik ekofeminisme dan pemberdayaan perempuan. 

Webinar SheHacks 2022 selanjutnya akan diselenggarakan pada Kamis, 9 Juni 2022 dengan topik “Wanita di Industri Seni Teknologi (Zona NFT)”. Selain itu, pendaftaran program pembinaan SheHacks 2022 masih dibuka hingga tanggal 31 Juli 2022 dan tidak dipungut biaya. Dapatkan pembinaan langsung dari para ahli, jejaring dengan potensial investor untuk ciptakan pemberdayaan yang lebih besar untuk seluruh perempuan di Indonesia. Menangkan juga total hadiah senilai 150 juta rupiah bagi peserta yang mengikuti program SheHacks 2022.

Read more