Gender Glass Ceiling: Masalah Nomor Satu Perempuan dalam Mengejar Mimpi

published on 23 August 2022
image-n75vq

Pernah dengar istilah glass ceiling?

Sepertinya namanya, merujuk pada fenomena yang terjadi di lingkungan kerja, berupa penghalang yang selayaknya kaca, tembus pandang dan tidak terlihat, menghalangi seseorang untuk bisa mencapai posisi yang lebih tinggi dalam sebuah organisasi atau perusahaan.

Fenomena glass ceiling bisa terjadi pada siapa saja, tapi sayangnya, paling dirasakan oleh pekerja perempuan. Ironisnya lagi, tidak hanya Indonesia, hingga negara maju seperti Amerika Serikat pun, fenomena glass ceiling masih menghantui para perempuan.

Gender glass ceiling yang dirasakan oleh perempuan tidak hanya menjadi hambatan dalam berkarir di era teknologi modern seperti sekarang, malah juga memberikan dampak buruk pada kondisi mental, kesehatan, dan kesejahteraan mereka, seperti stres yang berkelanjutan, ragu pada kemampuan diri sendiri, hingga mood swing yang bisa mempengaruhi pola hidup atau juga emosi yang tidak terkendali.

Kalau kamu sedang ada di posisi ini? Tenang, kamu tidak sendirian, dan ini bukan salahmu.

Di sesi webinar SheTalks di 18 Agustus kemarin dengan tema Mendobrak Gender Glass Ceiling dalam Industri 4.0, Gabriela Thohir (Investment Associate dari Skystar Capital) dan Emmy Surya (Founder Femalepreneur Indonesia) yang dimoderatori oleh Myrna Soeryo (CEO dari Awesome Communications Group), memberikan pandangan mereka untuk mengatasi fenomena ini.

Menurut Gabriela, ada tiga penghalang (barrier) yang menyebabkan perempuan harus menghadapi hambatan untuk advance di karir yang digeluti di fenomena glass ceiling, terutama di karir dalam bidang teknologi.

Societal Barrier atau penghalang yang berupa prasangka, stigma, dan pandangan dari masyarakat yang menganggap bahwa perempuan tidak mampu atau tidak cocok mempunyai karir yang tinggi, terlebih karir di bidang teknologi. Baik itu di lingkungan kerja, maupun di lingkungan keluarga, dan melahirkan stereotip yang justru membuat perempuan sulit untuk maju.

Selanjutnya ada Internal Barrier, penghalang yang berupa kurangnya rekrutmen aktif untuk perempuan pada posisi atau karir yang lebih tinggi dalam institusi, organisasi, atau perusahaan itu sendiri, atau bagi Gabriela, “budaya perusahaan (tersebut) tanpa sadar mengasingkan perempuan pada posisi tersebut.”

Terakhir adalah Regulatory Barrier, di mana sedikit adanya pemantauan yang tepat sehingga gender bias di lingkungan perusahaan bisa terjadi.

Nyatanya perempuan tidak ada bedanya dalam soal skill, dan sangat capable terhadap karir yang digeluti, dan menurut Emmy, hambatan ini bisa pelan-pelan diatasi dalam dua cara, yaitu dari dalam diri kita dan dari luar.

Kita harus sudah menentukan jenjang karir dan goals yang seperti apa yang hendak kita raih, terutama sejak dini, sehingga proses untuk mencapai target yang dituju dalam karir bisa lebih terfokus.

Sedangkan untuk faktor-faktor lain di luar diri kita masing-masing adalah hambatan yang harus diselesaikan bersama. Seperti mengajak masyarakat untuk lebih terbuka terhadap perempuan dalam mengejar karir, perusahaan yang memberikan kesempatan yang sama untuk perempuan untuk mengisi posisi tinggi dalam birokrasinya, dan juga kita yang turut mengawasi regulasi dalam pemberian hak-hak yang seharusnya didapatkan oleh perempuan.

Fenomena glass ceiling pada akhirnya bukan hanya hambatan yang harus dihadapi oleh seluruh perempuan di Indonesia sendirian, namun bersama tanpa harus memandang gender, memang sudah waktunya untuk kita menciptakan kesetaraan untuk semua dalam mengejar mimpi.


Semua yang bisa kita lakukan untuk menciptakan kesetaraan ini akan dibahas dalam beragam topik dan tema di sesi webinar SheHacks 2022 selanjutnya, yang bisa kamu ikuti dengan mendaftar di shehacks.id. Cek jadwalnya, dan daftarkan dirimu untuk jadi bagian ciptakan perubahan kesetaraan untuk seluruh perempuan Indonesia.

Read more