Penelitian STEM dan Peran Perempuan Indonesia dalam Pengembangannya

published on 28 October 2022
image-uzt6g

Perempuan di masa kini memiliki peran tak hanya di bidang ekonomi, sosial dan budaya, namun juga politik, ilmu pengetahuan, riset, dan teknologi. Dalam ilmu pengetahuan dan riset istilah ini sering dijuluki STEM yang merupakan singkatan dari Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. Sayangnya, jumlah perempuan yang terlibat dalam penelitian STEM masih cukup rendah, yaitu kurang dari 30%.

Upaya dari berbagai pihak dilakukan tak terkecuali UNESCO melalui program Women in Science-nya yang mengajak para perempuan semakin aktif untuk melakukan penelitian interdisipliner dengan menggabungkan keempat bidang tersebut.

Perempuan di Bidang Penelitian: Bukti Kesetaraan Gender

Kesetaraan gender memang membuat setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam berbagai bidang. Termasuk partisipasi perempuan dalam bidang STEM yang terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Bidang penelitian yang beberapa dekade lalu banyak diisi oleh laki-laki, kini mulai digeluti perempuan.

Tentunya, peran perempuan sama pentingnya dengan peran lelaki untuk memberikan temuan dan jawaban yang tepat untuk berbagai hal dengan berbagai perspektif.

Partisipasi Perempuan dalam Bidang Riset

Di masa lalu, perempuan tidak dilibatkan dalam sebagian besar penelitian. Hal ini kerap didasarkan pada dua gagasan: (1) bahwa perempuan secara biologis lebih rumit daripada laki-laki; dan (2) sebagai pengasuh utama anak-anak, seorang perempuan memiliki terlalu banyak tuntutan waktu yang bersaing untuk berpartisipasi dalam studi penelitian.

Di Indonesia, melansir dari BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), lebih dari 50% lulusan universitas adalah perempuan. Namun, dari jumlah tersebut peran wanita dalam bidang riset STEM masih rendah yakni 18%.

Melansir dari Unesco, tren ini di setiap wilayah, menyoroti konflik yang dihadapi banyak wanita saat mereka mencoba menyelaraskan ambisi karir dengan tanggung jawab merawat keluarga. 

Oleh karenanya, untuk mendukung perempuan agar dapat berpartisipasi lebih banyak di bidang riset, maka dibutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Hal ini juga untuk mendukung terwujudnya salah satu poin dalam SDG 2030 Indonesia (Sustainable Development Goals) yaitu mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan.

Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa sosok yang telah menjadi peneliti panutan. Salah satunya ialah Amarila Malik yang merupakan Ketua Tim Kajian Roadmap Pengembangan Vaksin Merah Putih. Selanjutnya ada Rintis Noviyanti, peneliti senior di Eijkman Institute. Lalu ada Puji Budi Setia Asih, peneliti dan Kepala Unit Resistensi Malaria dan Vektor, dan masih banyak sosok lainnya. 

Kamu tertarik untuk berkontribusi lebih besar di ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai seorang perempuan?

ini tandanya kamu harus gabung di program SheHacks 2022

SheHacks 2022 memiliki misi untuk membuat perempuan Indonesia berani mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Di sini, kamu pun akan memahami bahwa semua orang memiliki kesempatan yang sama, termasuk dalam penelitian STEM. 

Pastikan kamu bergabung dengan Webinar SheHacks 2022, ya! Untuk informasi lebih lengkap, kamu bisa cek di shehacks.id

Read more